Selasa, 08 November 2011

Pasuruan Rawan Bencana


PASURUAN – Dari sekian wilayah di Jawa Timur, Kabupaten Pasuruan termasuk satu daerah yang paling rawan diserang bencana alam. Dari tigabelas bentuk bencana yang ada, Kab Pasuruan memiliki sembilan ragam bencana yang sewaktu-waktu dapat menerjang.

Lebih mendetail, dari kesembilan bentuk bencana yang berpotensi terjadi di 24 kecamatan wilayah Kab Pasuruan, pada periode 2010-2011 tercatat diantaranya puting beliung terdapat tersebar 23 titik; banjir di 170 titik; longsor 21 wilayah; erupsi gunung berapi (Bromo) terjadi sebanyak 21 kali; tersambar petir terdapat 3 kasus; gempa pada hampir seluruh wilayak kabupaten; banjir rob setidaknya ada di 3 kecamatan; dan potensi bencana akibat kegagalan teknologi.

Dari sekian potensi itu, dituturkan oleh Yudha Tri Widya Sasongko, Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kab Pasuruan, bahwa bencana banjir, secara kwantitatif merupakan satu potensi bencana terbesar yang terus menerjang di wilayah Kab Pasuruan.

“Dari tahun ke tahun bencana hydrometeorology (banjir) paling sering terjadi dan tiap tahun terus meningkat,” ujar Yudha Tri Widya Sasongko, di sela kegiatan Sosialisasi Perda tentang bencana dan Pengarusutamaan Penanganan Bencana, di gedung Serba Guna Pemkab Pasuruan. Selasa (8/11).

Pemerintah mengakui berbagai upaya penanganan untuk menanggulangi bencana banjir  di 170 titik wilayah tersebut masih belum dapat dilakukan secara optimal. Hingga kini, proses penanganan hanya terbatas pada upaya tanggap darurat pada saat bencana banjir menerjang.

Lebih jauh, dari evaluasi yang dilakukan BPBD Kab Pasuruan, persoalan bencana banjir secara mendasar yang harus segera diselesaikan adalah keterkaitan wilayah hulu yakni pada kawasan hutan yang hingga kini gundul karena program reboisasi selama ini belum maksimal dan tidak dirasakan manfaatnya.

Sedangkan terkait upaya antisipasi daerah hilir, seperti sejumlah kegiatan normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dan persoalan pemukiman atau tata ruang selama ini tidak diperhatikan sepenuhnya.

Hal lain yang juga tidak luput dari upaya pencegahaan adalah potensi bencana akibat kegagalan tekonologi, menyusul banyaknya jumlah pabrik yang berdiri dengan menggunakan teknologi baik berupa mesin maupun bahan-bahan kimia.

“Meskipun belum ada catatan dari bencana akibat kegagalan teknologi ini, kita tetap berupaya mengantisipasinya,” lanjut Yudha.

Selanjutkan dikatakan, paradigma lama dalam menangani bencana saat ini harus segera diubah dengan pola penanganan yang lebih modern dan komprehensif yang melibatkan seluruh komponen dan stakeholder.

Diantara upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan dengan memberikan pelatihan, simulasi bencana dan sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan pada masyarakat secara umum. tj

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah memberikan komentar pada tulisan ini...