Kamis, 05 Januari 2012

Pabrik Aqua Dituding Penyebab Air Sumur Menyusut


PASURUAN – Keberadaan dan aktifitas usaha eksplorasi air tanah milik Aqua yang berada di Desa Keboncandi, Kec Gondang Wetan, Kab Pasuruan dituding sebagai penyebab utama menyusutnya debit air sumur milik warga.

Pabrik air minum dalam kemasan yang berdiri sejak tahun 2005 tersebut, dikatakan telah menyengsarakan warga sekitar karena saat ini warga semakin sulit mendapatkan air seperti saat pabrik belum dibangun.

Dari penjelasan yang dituturkan Imam Bashori, Kepala Desa Penataan, Kec Winongan, saat menyampaikan aspirasi warganya ke Komisi C DPRD Kabupaten Pasuruan, diketahui bahwa penurunan debit air sumur di pemukiman warga sekitar, telah dirasakan sejak beberapa tahun terakhir, bahkan sangat tampak penurunannya jika musim kemarau tiba.

“Pabrik Aqua yang menggunakan bahan baku utama air bawah tanah telah mengurangi sumur-sumur milik warga,” kata Imam Basori.

Pengambilan air tanah jika tetap dilakukan secara terus menerus ini, lanjut Imam Basori, dipastikan berdampak pada matinya sumber air dan sumur milik warga di sekitar pabrik asing tersebut.

Pihaknya pun mendesak kepada DPRD agar membentuk tim audit lingkungan bersifat independent, dengan harapan dapat melakukan evaluasi dan memastikan kebenaran atas dugaan sebagai penyebab susutnya debit air sumur milik warga.

Selain masalah air bawah tanah, warga juga mempersoalkan kerusakan jalan kabupaten yang selama ini digunakan jalur lalu lintas angkutan hasil produksi Aqua maupun aktifitas pabrik lain di kawasan tersebut.

Sekretaris Komisi C DPRD Kabupaten Pasuruan, Bachrul Alam, menyatakan bahwa keluhan dan aspirasi warga ini akan segera ditindak lanjuti.

Pihaknya juga akan mengklarifikasi ijin pemanfaatan air bawah tanah oleh pabrik Aqua. Selanjutnya ditegaskan jika untuk memastikan kebenaran dugaan penyebab susutnya air sumur warga masih diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut.

"Keluhan penurunan air dan kerusakan lingkungan disekitar pabrik akan kami tindak lanjuti, meminta keterangan dari instansi terkait," tandas Bachrul Alam. tj

Rabu, 04 Januari 2012

Waladalah!, Jeruji Roda Menancap Di Mulut


PASURUAN – Seorang bocah bernama Sudiono (11), warga Desa/Kec Lumbang, Kab Pasuruan harus dilarikan ke rumah sakit setelah mulutnya tertancap jeruji besi roda sepeda.

Saat berada di UGD RSU R Soedarsono, Kota Pasuruan, sore tadi, bocah nahas tersebut terlihat tegang dan menahan tangis sambil sesekali tangannya memegang tangan Sueb (43), ayahnya, seakan meminta pertolongan.

Sejumlah perawat rumah sakit terlihat bingung, hanya melakukan pemeriksaan kecil terhadap kondisi Sudiono dan tidak berusaha mengeluarkan jeruji yang tertancap sekitar 1 hingga 2 sentimter di langit-langit mulut.

Salah satu perawat, Abdul Mukhlis, mengaku takut mencabut jeruji itu karena bahan terbuat dari logam tersebut menancap cukup parah, sehingga harus menunggu dokter spesialis THT (tenggorokan, hidung dan telinga).

“Kami takut terjadi pendarahan,” kata Abdul Mukhlis.

Namun apesnya lagi, dokter yang ditunggu tidak juga muncul untuk segera memberikan pertolongan, sehingga setelah hampir setengah jam sudiono ‘tersiksa’ menunggu untuk dirawat, akhirnya pihak UGD terpaksa merujuk ke RSU Syaiful Anwar Malang agar mendapatkan pertolongan medis yang lebih memadai.

Dari informasi diketahui bahwa peristiwa tertancapnya jeruji itu terjadi tidak terduga ketika Sudiono tengah bersepeda di sebuah jalanan desa sekitar pukul 13.00 WIB.

Layaknya aksi tokoh dalam film ‘Cobra’ dengan gaya menggigit batang korek api, Sudiono saat itu bersepeda dengan menggigit jeruji yang sebelumnya ia temukan di tengah jalan.

Tidak diduga, sebuah mobil melaju di depannya, sehingga kedua tangannya pun langsung membanting setir sepeda mini yang dikendarainya hingga terjatuh.

Namun, seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Jeruji yang ia kulum waktu itu malah menancap di langit-langi rongga mulut.

Setelah sekian lama, bocah nahas itu akhirnya dilarikan ke rumah sakit R Sudarsono, setelah orang tua dan warga sekitar tidak mampu mengeluarkan jeruji dalam mulut Sudiono. 

Barangkali peristiwa ini dapat menjadi peringatan kepada para orang tua agar lebih berhati-hati dan memberi pemahaman kepada putra putrinya saat bermain. Alat permainan yang sepertinya aman ternyata dapat juga berbahaya bahkan barangkali dapat mengacam jiwa. tj

Banjir Dimungkinkan Terjadi Lebih Besar


PASURUAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kelas II Tretes memperkirakan kemungkinan datangnya banjir lebih besar dibanding dengan yang pernah terjadi beberapa waktu terakhir.

Data yang diperoleh dari BMKG Tretes menyebutkan intensitas hujan di wilayah di hampir seluruh Jawa Timur, selama bulan Januari dan Februari bisa mencapai lebih dari 115 mm hingga 200 mm dan dapat terjadi setiap hari secara terus menerus, hingga volume air yang turun ke bumi melimpah dan menimbulkan banjir.

Sebagai ilustrasi, banjir yang melanda wilayah Pasuruan beberapa waktu terakhir terjadi setelah hujan dengan curah kurang dari 115 mm dengan intensitas tinggi.

Sehingga, jika curah hujan mencapai seperti yang diperkirakan yakni 115 mm hingga 200 mm, diperkirakan bencana banjir dengan skala lebih besar dimungkinkan terjadi.

Potensi bencana banjir dalam skala relatif kecil juga akan tetap mengancam terutama pada daerah dataran rendah atau berdekatan dengan permukaan laut, meskipun curah hujan hanya mencapai 80 mm.

Hal itu lebih disebabkan fungsi drainase selama ini tidak optimal dan sungai yang ada saat ini diketahui dangkal sehingga meluap tidak mampu menampung debit air hujan.

“Warga di dataran rendah agar selalu waspada akan bahaya banjir yang bisa terjadi tiap hari,” himbau Nugraha Priyalaksmana, Kasi Observasi dan Informasi BMKG kelas II Tretes, Rabu (4/1/).

Di wilayah Pasuruan sendiri, daerah yang kerap terdampak bencana banjir dinataranya wilayah Kecamatan Beji, Bangil, Kraton, hingga wilayah timur seperti Kec Rejoso dan Grati Kab Pasuruan serta sejumlah titik di wilayah Kota Pasuruan. Wilayah tersebut diketahui berdekatan dengan laut serta ketinggian dari permukaan air laut tergategori rendah. tj

Senin, 02 Januari 2012

Parade Nusantara Akan Tutup Pantura Di Jawa


PASURUAN – Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara, organisasi Kepala Desa, berencana akan melakukan penutupan jalur pantai utara (pantura) di sepanjang Pulau Jawa mulai Anyer hingga Panarukan, termasuk di jalur tengah dari Sidoarjo sampai
Bandug bagian barat berakhir di Bogor.

Rencana itu terungkap dalam acara 'Silaturahmi dan konsolidasi anggota Parade Nusantara Jawa Timur dalam rangka pengawalan Undang-undang Desa' bersama sekitar 400 Kepala Desa se-Jatim, di Chandra Wilwatikta, Kec Pandaan, Kab Pasuruan, Senin (2/1).

Aksi penutupan jalur pantura di jawa itu digelar dalam bentuk kegiatan karnaval serempak kepala desa, peringati hari jadi Parade Nusantara, pada 12 Januari 2012 mendatang.

Karnaval dalam memperingati kebangkitan desa nusantara itu, jika terus digelar dipastikan berdampak lumpuhnya jalur pantura.

Selama ini kepala desa prihatin dengan sikap pemerintah pusat yang tidak segera mengesahkan Undang-undang Desa yang sampai saat ini masih pada tahapan proses pembahasan di DPR pada Sabtu (7/1) nanti.

Kepala desa sepertinya mendukung dan bersepakat karnaval sebagai bentuk semangat perjuangan guna mewujudkan pengesahan UU Desa.

"Tidak ada rencana menutup jalan. Tapi pada 12 Januari 2012 akan memperingati kebangkitan desa nusantara. Agendanya karnaval di jalur pantura," tegas Sudir Santoso, menjawab keseriusan rencana karnaval kepada sejumlah wartawan.

Ia menjelaskan tujuan karnaval dalam konteks ulang tahun, dan rasa kebersamaan. Tapi ia tidak menyangkal dan menganggap wajar jika saja dampaknya terjadi kemacetan.

Terkait UU Desa, kepala desa juga akan mengawal pembahasan RUU Desa di DPR dengan mengerahkan 200 orang untuk memantau pembahasan tersebut.

"Bila UU Desa pembahasannya melenceng dari harapan kita, maka anggota dewan akan kita kejar sampai di ruang fraksi," ancamnya.

Pemerintah desa menuntut alokasi dana desa (ADD) sebesar 10% dari dana APBN. Sehingga masing-masing desa nantinya mendapatkan ADD sekitar Rp 1 Miliar.

Ia berpendapat di APBN 2009-2011 tersedia dana Rp 82 triliun untuk pembangunan desa, tapi pengelolaannya dilakukan pada 14 kementerian. Sehingga idealnya tiap desa dapat 1 miliar. Tapi kenyataannya pengelolaan dana oleh 14 kementerian itu hanya sebagian kecil diwujudkan ke desa.

Sudir membandingkan ketimpangan yang terjadi bahwa selama ini tiap desa hanya dapat ADD rata-rata Rp 75 juta per tahun. Dana itu sangat kecil dibandingkan dana reses anggota dewan yang mencapai Rp 50 juta per orang.

Selain itu Parade Nusantara juga menuntut agar desa diberikan kejelasan melalui undang-undang tentang kewajiban, kewenangan dan hak.

Pasalnya selama ini desa hanya diberikan kewajiban, itu pun sebatas melalui tugas
Bersifat perbantuan.

Pembina Parede Nusantara Rizal Ramli mengatakan rasa kecewa dialami kepala desa terkait lambatnya RUU Desa dinilai sangat wajar, karena sekitar 70% rakyat Indonesia hidup di desa.

"Seharusnya pembangunan di pusatkan di desa. Tapi ironisnya kepala desa
hanya diberikan kewajiban, tetapi tidak diberikan kewenangan. Sehingga tuntutan kepala desa sangat wajar," kata Rizal Ramli.

Sikap pemerintah dipandang sebagai sebuah ironi, karena saat pembahasan RUU terkait
Kehidupan masyarakat banyak justru sangat lambat.

Perlakuan berbeda justru ditunjukkan pemerintah jika terdapat kepentingan asing, maka RUU bisa cepat dibahas.

"Begitu menyangkut modal asing, bisa cepat. Tapi menyangkut rakyat di desa justru diundur-undur," pungkas Rizal. tj

Kepala Desa Diinstruksikan Tutup Paksa Usaha Retail


PASURUAN - Persatuan rakyat desa (Parade) Nusantara, salah satu organisasi kepala desa di Indonesia, menginstruksikan kepala desa dan perangkatnya, agar menutup usaha retail dan supermarket.

Instruksi untuk mendatangi pengelola retail itu disampaikan Ketua Umum Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara Sudir Santoso dihadapan sekitar 400 kepala desa se-Jawa Timur dalam acara 'Silaturahmi dan konsolidasi anggota Persatuan rakyat desa (Parade) Nusantara Jawa Timur Dalam Rangka Pengawalan Undang-undang
Desa' di Chandra Wilwatikta, Kec Pandaa, Kab Pasuruan, Senin (2/1).

Parade Nusantara menilai, keberadaan usaha retail yang menjamur di desa-desa itu berdampak buruk pada perekonomian masyarakat kecil.

Banyak toko kecil yang selama ini menjadi sandaran hidup warga desa terpaksa tutup, bahkan pasar tradisional juga semakin kehilangan pembeli lantaran kalah bersaing dengan pemodal besar.

"Kita intruksikan kepala desa, waktu hari jadi Parade Nusantara agar menolak supermarket," tegas Sudir Santoso, Ketua Umum Parade Nusantara.

Ia menyatakan saat mendatangi retail dan supermarket tersebut harus, dengan memberikan pilihan diantaranya tutup permanen, tetap buka tapi dalam bentuk grosir, atau sahamnya dibeli desa melalui Badan Pemberdayaan Desa (BPD).

Dasar penolakan terhadap retail bermodal besar itu adalah keprihatinan terhadap sikap kepala daerah (Bupati dan Walikota) selama ini langsung memberikan ijin pendirian retail setelah menerima 'uang pelicin' sebesar Rp 50 juta.

"Ada dasarnya kita menutup (usaha retail), itu bukti kepala daerah tidak bijak, pemodal besar diadu dengan pemodal kecil," katanya kemudian.

Waktu yang di-deadline-kan kepada kepada kepala desa tersebut, pada 12 Januari nanti, tepat perayaan hari jadi Parade Nusantara.

Sudir Santoso mengatakan, perayaan hari jadi Parade Nusantara juga dikemas dalam bentuk kegiatan karnaval serentak oleh Kepala Desa se-Jawa.

Kegiatan karnaval dilakukan di jalan raya dari Anyer sampai Panarukan dalam rangka mengawal pembahasan Rancangan Undang-undang Desa.

Sudir melanjutkan, penolakan terhadap retail yang kain menjamur ini, sudah dilakukan para kepala desa di Sumenep, Madura, dengan cara tidak memberikan izin usaha.

Parade Nusantara saat ini sebanyak 71 ribu kepala desa, utamanya di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Total anggota mencapai 1,1 juta orang termasuk perangkat desa. tj

Kamis, 29 Desember 2011

Tingkat Hunian Hotel Di Tretes Turun


PASURUAN – Tingkat hunian (okupansi) hotel yang tersebar di wilayah puncak Tretes, Kec Prigen, Kab Pasuruan dalam kurun satu tahun ini berkisar 48 persen. Angka prosentase tersebut menurun dibanding tahun 2010 lalu yang mencapai pada angka sebesar 51 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sunarko Hidayat, salah satu pengurus PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) yang menjabat sebagai Ketua Komisi Pengembangan Usaha.

Narko, panggilan akrabnya, ditemui di hotel yang dipimpinnya sore tadi, menjelaskan dari sekitar 4000 penginapan maupun losmen yang terebar di wilayah puncak Tretes, terdapat tujuh hotel yang saat ini masih bertahan berdiri, mulai hotel bintang tiga hingga bintang lima.

Tanpa bermaksud menyudutkan, Narko menuturkan bahwa selain persoalan pengelolaan kebijakan yang masih lemah oleh pemerintah daerah selama ini, penurunan tingkat hunian lebih disebabkan pesatnya perkembangan sarana hiburan dan obyek pariwisata di daerah Malang dan Batu.

Wilayah Pasuruan yang sebelumnya menjadi transit dan tujuan utama para wisatawan dalam memanfaatkan liburannya, ternyata dalam beberapa waktu terakhir ini, hanya menjadi jalur perlintasan saja, sehingga berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisata dan angka hunian hotel di wilayah Pasuruan khususnya Tretes.

Dilanjutkan tingkat okupansi hotel khususnya di daearah Tretes dibandingkan dengan daerah lain dikatakan sangat jauh tertinggal. Di daerah Malang dan Batu diperkirakan tingkat okupansi sudah mencapai lebih 80 persen dan di wilayah Surabaya, okupansi sekitar 70 persen.

Persoalan ini dikatakan menjadi tanggung jawab bersama baik pemerintah maupun pelaku usaha pariwisata termasuk pengusaha penginapan dan hotel. Pasalnya, menyinggung okupansi tidak bisa dilepaskan dengan upaya pengelolaan potensi wisata dan pengembangan kekayaan lainnya yang dapat menjadi daya tarik wisata.

“Pasuruan (obyek kunjungan wisata) sudah tidak ada daya tarik lagi yang dapat mendukung, kita sudah jauh tertinggal dengan daerah lain,” ujar Narko.

Narko tidak dapat memastikan kemungkinan usaha hotel dan penginapan di puncak Tretes dalam beberapa tahun nanti akan gulung tikar, jika kondisi ini tetap dibiarkan.

Momentum libur natal dan tahun baru kali ini, sepertinya menjadi satu ‘bonus’ hiburan, karena jumlah hunian terdapat peningkatan.

Salah satu manajer sebuah hotel bintang tiga, Suparman, mengatakan bahwa terhitung sejak sebulan lalu, jumlah penghuni kamar hotel meningkat lebih dua kali lipat dari hari-hari biasa.

Dari 31 kamar yang dimiliki, hampir setiap hari terdapat pengunjung yang menyewa kamar untuk mengisi liburan di kawasan puncak tretes.

Padahal pada hari-hari biasa, jumlah kamar hotel yang disewa tidak lebih dari sepuluh pengunjung saja.

Dijelaskan, saat ini hampir seluruh hotel ‘full booked’ dan tidak lagi melayani reservasi kepada pengunjung yang akan menghabiskan waktu menjelang pergantian tahun nanti.

Seperti yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, sejumlah hotel menerapkan sistem tarif bervariasi dalam bentuk program paket libur akhir tahun dengan memberikan beragam fasilitas.

Meskipun demikian meningkatnya hunian hotel pada akhir tahun ini, tetap saja tidak mampu mengatrol prosentase okupansi hotel pada kurun tahun 2011 ini, yang hanya mencapai 48 persen dari tahun sebelumnya sebesar 51 persen. tj

Rabu, 28 Desember 2011

Sekelumit Alasan Imigran Timteng Lari Ke Australia


PASURUAN – Seribu satu alasan barangkali dapat diungkap oleh para imigran gelap asal Timur Tengah, yang saat ini ‘terdampar’ di Indonesia.

Bahkan nyawa pun dipertaruhkan, seperti yang terjadi pada para imigran di perairan Prigi, Trenggalek beberapa waktu lalu, hanya demi alasan rasa aman dan memperbaiki nasib lebih baik hingga nekad lari dari Negara tempat mereka lahir, pergi ke negeri orang.

Salah satu imigran asal Afghanistan, Esmat Adine (24) yang termasuk korban dalam peristiwa kapal tenggelam di perairan Prigi, Trenggalek, mengungkapkan derita dan alasannya hingga ia harus lari menghindar dari gejolak sosial politik yang terjadi di negaranya.

Esmat Adine yang saat ini menjadi salah satu deteni (penghuni) Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya di Bangil, Kab Pasuruan tersebut mengungkapkan satu kenangan yang sampai kini tidak terlupakan pada saat di tahan sekitar 16 hari oleh Taliban yakni kala dipaksa untuk menembaki teman dan keluarganya menggunakan senjata api oleh tentara Taliban.

But I can’t do it (tapi saya tidak bisa menembak teman dan saudara),” ucap Esmat Adine mengenang kembali perlakuan tentara Taliban, dijumpai di Rudenim surabaya, Bangil, Rabu (28/12).

Hidup di negaranya, menurut laki-laki lulusan American Universitas di Kabul ini, sudah tidak lagi ada rasa aman, karena setiap detik dipenuhi dengan perang dan teror senjata api ataupun bom.

Warga Afghanistan yang dianggap bersinggungan dengan warna maupun fasisiltas-fasilitas milik Amerika dipastikan terancam hidupnya, seperti yang dialami Esmat karena bekerja sebagai ‘travel officer’ di USAID.

Ancaman dan teror yang bertubi-tubi itu menjadi pelecut, hingga setelah berhasil membebaskan diri dari penjara Taliban, Ia pun langsung meninggalkan kampung halamannya dengan impian hidup nan indah menuju Australia.

My country is very dangerous to live there, I want go to Australia (Negara saya sangat berbahaya untuk hidup, sehingga saya ingin pergi ke Australia),” katanya kemudian.

Ia pun meringkas cerita dalam perjalannya menuju Australia, terlebih dahulu harus transit di Jakarta, menunggu waktu pemberangkatan melalui laut, bersama ratusan imigran gelap asal timur Tengah lainnya pada bulan Desember 2010 lalu.

Dijelaskan bahwa agar bisa ke Australia dengan naik kapal, ia mengaku harus merogoh ‘kocek’ sebesar USD 4000 kepada seorang bernama Syekh Abbas.

Namun, impian hidup aman dan lebih baik di Australia musnah tersapu bersama tenggelamnya kapal yang membawanya diperairan Prigi, Ternggalek.

Selain hilangnya impian Australia, yang membuat dada Esmat kian sesak adalah karena ia tidak mengetahui nasib dan keberadaan anak tercinta dan saudara-saudaranya yang sebelumnya bersama dalam pelarian.

Saat ini ia hanya ingin menenangkan dan berusaha menata kembali anganan untuk hidup ke negeri kanguru seperti semula.

I have not family, for what I come back? (saya sudah tidak mempunyai saudara lagi, jadi untuk apa saya kembali ke Afghanistan?),” pungkas Esmat. tj

Senin, 26 Desember 2011

Bencana Di Penghujung Tahun


Banjir

PASURUAN – Di penghujung tahun ini, wilayah Kab/Kota Pasuruan justru mendapat ‘hadiah’ berupa bencana banjir yang terjadi sejak Minggu (25/12) sore.

Bencana yang rutin terjadi pada musim hujan itu menerjang tiga kecamatan di wilayah Kabupaten Pasuruan sekaligus, yakni Bangil, Pohjentrek dan Kraton, serta Desa Karang Ketug, Kec Gadingrejo Kota Pasuruan.

Banjir di Bangil merendam ratusan rumah warga di wilayah Kelurahan Kalirejo, Kalianyar, dan Tambaan. Sedangkan banjir di Pohjentrek merendam Desa Sukorejo, dan di wilayah Kraton merendam Desa Tambakrejo.

Dari catatan BPBD Kabupaten Pasuruan, bencana banjir merendam rumah warga sebanyak 2.515 kepala keluarga (KK), masing-masing Kecamatan Bangil (1.600 KK), Pohjentrek (315 KK) dan Kraton (600 KK).

Selain itu Desa Karang Ketug, Kec Gadingrejo, Kota Pasuruan, yang lokasinya bersebelahan dengan Desa Tambakrejo, Kec Kraton, Kab Pasuruan juga terimbas terjangan banjir dengan ketinggian rata-rata satu meter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko, mengatakan bahwa banjir terparah diantaranya terjadi di wilayah Desa Tambakrejo, Kec Kraton.

Di tempat ini, air meluber hingga menutup jalan raya pantai utara (pantura) dengan ketinggian mencapai 60 sentimeter.

Akibatnya, arus lalu lintas dua arah di jalur pantura yang menghubungkan Surabaya-Banyuwangi itu lumpuh lebih enam jam. Seluruh kendaraan yang akan melintas dari Surabaya-Probolinggo-Banyuwangi atau sebaliknya terpaksa dialihkan lewat jalur Pandaan-Purwosari-Pasuruan.

Banjir Pasuruan ini juga menghanyutkan seorang pekerja proyek plengsengan sungai Kedung Larangan, Bangil, bernama Yunus (25), warga Kediri. Korban diketahui hilang setelah terpeleset saat hendak buang air besar di sungai Pecuk, Desa Karangjati, Kec Pandaan pada sore kemarin. Dan pada malam harinya korban ditemukan tewas terhanyut banjir di sungai sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.

Dari informasi BPBD, banjir ini disebabkan tingginya curah hujan di wilayah hulu yakni wilayah Kec Lawang, Kab Malang yang terjadi sejak pagi hari dan menyebabkan Sungai Welang meluap. Sehingga desa-desa di wilayah Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Kecamatan Pohjentrek dan Kraton, Kab Pasuruan terendam banjir dan melumpuhkan jalur pantura.

Sementara, di wilayah Bangil, banjir terjadi karena sungai Kedung Larangan meluap hingga membanjiri pemukiman di tiga desa.

Dari pantauan, pada Senin (26/12) pagi banjir yang sempat menggenangi wilayah Pasuruan, mulai surut. Arus lalu lintas yang melewati Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, yang sempat lumpuh sebelumnya telah kembali normal meskipun genangan air masih terlihat menutup sebagian bahu jalan.

Namun demikian, air dengan ketinggian sekitar 60 sentimeter, masih merendam pemukiman warga di tiga desa di wilayah Kecamatan Bangil, yakni Kalirejo, Kalianyar, dan Tambaan.

Hingga siang tadi, BPBD masih berupaya melakukan penyedotan air agar banjir yang menggenang di tiga desa wilayah Bangil tersebut dapat berkurang.

Upaya penyedotan dengan pompa air itu, dijelaskan oleh Yudha sebagai langkah alternatif dan bersifat ujicoba dan jika berhasil akan diputuskan menambah peralatan pompa dari Dinas Pengairan.

Potensi terjadinya banjir susulan dimungkinkan bisa terjadi. Pasalnya sebagian wilayah Malang dan Pasuruan pada Senin sore masih diguyur hujan.

Sehingga BPBD mengantisipasinya dengan menentukan tiga titik lokasi pengungsian, diantaranya berada di sekitar Kec Bangil, serta menyiapkan petugas Satuan Siaga Bencana.

Hingga saat ini belum terdapat laporan adanya kerusakan rumah akibat banjir yang menyerang pemukiman penduduk, namun dari catatan sementara yang dimiliki BPBD, banjir juga merendam areal persawahan wilayah Kab Pasuruan seluas 60 hingga 100 hektar.

Tanah Longsor

Sementara itu, hujan yang mengguyur seharian pada Minggu kemarin juga mengakibatkan tanah tebing perbukitan di tiga titik wilayah Kec Tosari, Kab Pasuruan longsor.

Akibatnya, jalur utama menuju Taman Wisata Bromo terputus akibat tertimbun longsoran tanah.

Salah satu titik longsoran akibat hujan dan angin kencang itu berada di jalan Propinsi, tepatnya sekitar satu kilometer dari pusat Desa/Kec Tosari, Kab Pasuruan. Dan dua titik lainnya berada di sekitar Desa Baledono, Kec Tosari.

Pada senin pagi Pemkab Pasuruan, menyatakan Jalur ke wisata Gunung Bromo di Desa/Kecamatan Tosari sudah dibuka dan jalan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat setelah petugas membersihkan material Lumpur dan bebatuan di tiga titik longsor dengan alat berat.

Masyarakat saat ini bisa memanfaatkan sisa liburannya dengan berkunjung ke Taman Wisata Bromo karena jalur sudah normal kembali, meskipun dihimbau tetap meningkatkan kewaspadaan dalam perjalanannya karena jalur berkelok dan bertebing itu masih licin terdapat lumpur serta kerikil masih berserakan di jalanan.

Akan tetapi, ditegaskan juga jika sejumlah titik jalan di sekitar Tosari masih berpotensi terjadi longsor lagi karena hujan disertai angin kencang masih terus terjadi di kawasan ini. tj

Minggu, 25 Desember 2011

Tak Punya Ongkos Rayakan Liburan, Satroni Toko

PASURUAN – Gara-gara tidak punya ongkos untuk rayakan liburan akhir tahun, seorang pemuda bernama Moh Udin (22), warga Dsn. Susukan RT/RW 2/1 Ds. Nguling, Kab Pasuruan, nekad satroni sebuah toko kelontong di dalam pasar Nguling, Kab Pasuruan. Minggu (25/12).

Di hadapan penyidik di Mapolsek Nguling saat itu, Udin mengaku tidak ingin melewatkan liburan panjang kali ini.

Saat ini ia berencana mengumpulkan uang saku untuk dipergunakan berkeliling kota dan pesta bersama teman-temannya merayakan malam tahun baru nanti.

“Nggak punya uang untuk main,” kata Udin singkat, di hadapan penyidik di Mapolsek Nguling.

Menurut Kapolsek Nguling, AKP Sajudi, pemuda ini dikenal sebagai preman kampung yang selama ini kerap meresahkan warga sekitar. Bahkan dilaporkan juga jika pelaku ini, memiliki catatan tindak kejahatan yang sama hingga dihukum di dalam penjara beberapa waktu yang lalu.

“Anak itu memang dikenal nakal, suka mabuk-mabukan sampai judi bilyard,” terang AKP Sajudi.

Peristiwa pencurian itu terungkap setelah Salam (40), pemilik toko, warga Dsn Sumurlecen, Ds Kedawang, Kec Nguling, sekitar pukul 07.30 WIB keamrin lapor ke Polsek Nguling, jika toko miliknya telah dibobol pencuri.

Selanjutnya polisi saat itu juga langsung melakukan penyelidikan ke lokasi toko dalam pasar Nguling itu dan berhasil mengidentifikasi pelaku.

Sekitar pukul 09.00 WIB tim buser Polsek Nguling melakukan penggerebekan dan berhasil menangkap Udin tanpa ada perlawanan.

Pemuda yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini, mencuri toko, dengan cara menjebol dinding toko yang terbuat dari triplek yang diperkirakan dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari kemarin.

Dari tangan tersangka, polisi juga mengamankan berbagai barang bukti hasil curian, mulai dari ratusan bungkus bahan seperti susu instant, kopi instant, permen minuman penyegar dengan nilai tidak lebih dari Rp 200 ribu.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam dihukum 5 tahun penjara sesuai pasal 362 KHUP tentang pencurian. tj

Mobil Terjun Ke Sungai, Pengemudi Tewas


PASURUAN – Seorang pengemudi tewas setelah mobil sedan yang ditumpanginya terjun ke dalam sungai, tepat di depan pegadaian di daerah Purwosari, Kab Pasuruan, sekitar pukul 04.30 WIB pagi tadi.

Kondisi badan mobil bernopol N-47-AN tersebut ringsek dan terjepit di antara bebatuan di bawah jembatan sungai, hingga petugas kesulitan saat hendak mengevakuasi bangkai kendaraan.

Sejumlah warga melihat peristiwa waktu itu, menuturkan bahwa mobil yang dikemudikan Bortab Simbolon (46) itu, melaju dari arah Malang menuju Pasuruan dengan kecepatan tinggi terlihat ugal-ugalan bergerak sedikit zigzag.

Di lokasi itu, sang sopir mencoba mendahului sebuah kendaraan yang berada di depannya dari sisi sebelah kiri. Namun tidak disangka dari sisi yang sama, ada sebuah motor melaju pelan. Agar terhindar dari tabrakan dengan motor itu, mobil pun dibanting ke kiri dan akhirnya terjun ke dalam sungai setelah menabrak tonggak pembatas sungai.

Bortab tewas di tempat kejadian dengan menderita luka pada kepala serta patah tulang di sebagaian tubuhnya dan saat itu langsung dilarikan ke Puskesmas Purwosari.

Sedangkan seorang penumpang lain bernama Kodir (35), mengalami luka serius pada bagian kepala dan kaki, hingga harus dilarikan ke rumah sakit umum Syaiful Anwar Malang. Kedua korban tercatat sebagai warga Perumahan Keputran, Purwosari, Kabupaten Pasuruan. 

“Nyalip mobil, lah ternyata di depannya ada sepeda motor, trus itu masuk sungai,” terang Zainul di lokasi kejadian.

Setelah beberapa waktu disemayamkan di Puskesmas Purwosari, oleh polisi bersama keluarga, korban tewas selanjutnya dibawa ke RSU Syaiful Anwar untuk dilakukan visum.

Polisi masih melakukan penyelidikan dan masih mencari penyebab utama terjadinya kecelakaan dengan memeriksa sejumlah warga dan korban selamat. tj