Senin, 07 Februari 2011

Terlambat 6 Menit, Siswa Dihajar Satpam Sekolah

Jaya Nurrahman menunjukkan luka bekas rotan dan cubitan yang diduga dilakukan Satpam.
PASURUAN – Gara-gara terlambat masuk sekolah, seorang siwa SMP Negeri 1 Nguling, Kabupaten Pasuruan, dipukul dengan batang rotan oleh Satpam sekolah.

Kejadian tersebut terungkap ketika siswa SMP bernama Jaya Nurrahman (13) bersama kedua orang tuanya melapor ke pihak kepolisian bahwa dirinya telah dianiaya oleh seorang satpam bernama Siswanto.

“Satpam sekolah memukul pungung dengan rotan dan mencubit dada saya sampai membiru,” ujar Jaya Nurrahman di Mapolsek Nguling. Senin (7/2).

Dari pengakuan siswa yang masih duduk di kelas VII-3 ini, bahwa pada Sabtu (5/2) pagi, bersama belasan siswa lainnya, Jaya tidak dapat memasuki pintu gerbang karena Satpam telah mengunci pintu gerbang sekolah.

Padahal diperkirakan, siswa-siswa tersebut terlambat masuk sekitar 6 menit dari peraturan waktu yang telah ditentukan sekolah yang mengharuskan menutup pintu gerbang tepat pukul 07.00 WIB.

Belasan siswa yang terlambat tersebut kemudian mencoba menerobos pintu lainnya di sebelah barat gerbang utama, namun tepergok, hingga siswa mendapat sabetan batang rotan dan cubitan Satpam Siswanto.

Belakangan diketahui, penganiayaan serupa juga terjadi pada 6 siswa lainnya yang waktu itu juga bersama-sama terlambat masuk sekolah. Namun, siswa lain korban Satpam Siswanto, tidak berani melaporkan diri.

Karena pukulan dan cubitan yang diterimanya tersebut, Jaya Nur Rahman pun enggan berangkat sekolah, karena trauma dan membuat khawatir kedua orang tuanya.

“Saya tidak terima anak saya diperlakukan kayak gini. Makanya kami laporkan ke polisi agar tidak terjadi lagi,” kata Sulistyowati (33) didampingi Abdurahman (43) suaminya.

Pihak kepolisian belum menentukan langkah atas laporan ini. Namun, sejumlah petugas kepolisian setempat hanya memberi keterangan untuk menyelesaikan kasus penganiayaan ini dengan cara kekeluargaan.

Sementara itu, Wakil Kepala SMP Negeri 1 Nguling, Wasis, mengatakan masih belum mengetahui secara persis kejadian sesungguhnya. Namun, pihaknya tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan kepada siswa didik.
Selama ini sekolah tidak memberlakukan peraturan dan sanksi dalam bentuk hukuman fisik terlebih dalam bentuk pukulan kepada siswa yang melanggar.

"Tindakan kekerasan itu tidak dibenarkan. Kami masih mengkomunikasikan kejadian ini dengan Satpam bersangkutan dan orang tua siswa,” urai Wasis, Wakil Kepala SMPN 1 Nguling.

Pihak sekolah juga tidak memberikan jawaban kemungkinan Satpam Siswanto diberikan sanksi karena diduga melakukan penganiayaan terhadap siswa.

Satpam Siswanto, hingga kini masih bertugas di pos penjagaan dan pintu gerbang sekolah. Saat ditemui untuk ditanyakan kasus yang menimpanya, Siswanto enggan memberikan berkomentar. tj

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih telah memberikan komentar pada tulisan ini...