Kamis, 09 Juni 2011

Jika Khitanan Massal Untuk Orang Dewasa


Satu peserta dalam khitan massal  Ds Watulumbung, Kec Lumbang. 

PASURUAN – Khitan massal biasanya digelar dan diikuti oleh anak-anak. Namun, kali ini justru diikuti oleh para pria dewasa yang tentu sudah berumur.

Tidak tanggung-tanggung, salah satunya bahkan terbilang sudah udzur mencapai 55 tahun. Karuan saja mereka begitu selesai dikhitan, langsung ngacir langsung pulang ke rumahnya.

Sebanyak 32 orang dewasa yang berusia antara 30 hingga 55 tahun, mengikuti khitan massal yang digelar NU Kab Pasuruan bersama Pemkab Pasuruan dan Yayasan Mubarot Kab Pasuruan di Desa Watulumbung, Kec Lumbang, Kamis (9/6).

Para peserta khitanan massal ini paling muda berusia 30 tahun, sedangkan paling tua berusia sekitar 55 tahun.
Ternyata selain orang awam, seorang perangkat desa setempat, yang berusia 38 tahun, juga mengikuti khitan masal ini.

Menariknya lagi, rata-rata peserta khitan massal, diantarkan para istrinya menuju lokasi khitan.

“Kepada para istri, silahkan bedakan dengan sebelumnya. Suami pasti jauh lebih sip dan higienis,”kelakar KH Idris Hamid, Ketua Yayasan Mubarot.

Kh Son Haji Abdus Shomad, Ketua PCNU Kab Pasuruan, menuturkan bahwa khitanan masal ini digelar sebagai bentuk bimbingan serta pembinaan dalam agama islam secara benar.

“Muslim akan jauh lebih sempurna jika dikhitan karena sekaligus menjaga kesehatan,” ujar KH Son Haji Abdus Shomad.

Sebenarnya warga para peserta khitan massal ini sebelumnya semasa kecil sudah dikhitan secara tradisional. Namun, cara berkhitan yang dilakukan oleh warga saat masa anak-anak tersebut, hanya dilukai pada ujung kulit kemaluannya saja.

“Terkadang ada yang cukup dilukai dengan menggunakan bilah bambu yang dipecah dan ujung kulit buah dzakarnya dijepit begitu saja,” tambah Abd Rochim, seorang Staf di Dinas Kominfo Kab Pasuruan.

Para peserta khitan mendapatkan santunan sebesar Rp 75.000 sebagai ganti mereka lantaran tidak bekerja.
Wabup Pasuruan, H eddy Paripurna, berharap kegiatan khitan massal ini terus digelar dan dikembangkan.

“Dibutuhkan kesabaran mengajak warga yang khitannya belum sempurna. khitan yang sempurna sangat mendukung kesehatan sekaligus membuat kesempuranaan dalam beragama,” ujar Edy Paripurna. tj

Tiga Bocah Tewas Tenggelam Saat Bermain


Sungai Welang tempat tenggelamnya tiga bocah.

PASURUAN – Peringatan bagi para orang tua agar lebih berhati-hati mengawasi anak-anaknya saat bermain.

Seperti yang terjadi pada 3 bocah Dusun Rujak Gadung, Kel Karang Ketug, Kec Gadingrejo, Kota Pasuruan, tewas saat asik bermain di sungai.

Tiga bocah korban tenggelam tersebut adalah Mohammad Taufiq (5), Khotimatun Novianti (9) dan Umi Kulsum (9).

Dari data yang dihimpun diketahui bahwa Muhammad Taufiq putra pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Lukman (30) dan Mas'adah (25); Khotimatun Novianti putri ketiga dari empat bersaudara dari pasangan khozin (45) dan Siami (35); serta Umi kulsum dari pasangan Muhammad Anis (42) dan Hamidah (38), anak terakhir dari empat saudara.

Ketiga korban sebelumnya bermain dengan tiga bocah lainnya di tepi sungai welang sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu (8/6) sore.

Mereka selanjutnya memutuskan berenang ke dalam sungai dan tiga lainnya mencari ikan serta udang menuruni bibir sungai yang berjarak sekitar 75 meter dari rumah mereka itu.

Namun apes, tidak lama berselang, ketiga bocah yang berenang langsung tenggelam
dan terseret aliran sungai sedalam 4 meter.

Mengetahui kejadian itu, tiga bocah yang sebelumnya mencari ikan ketakutan, berlari menuju rumah dan meminta tolong pada warga sekitar.

Warga pun berbondong-bondong menuju lokasi sungai dan setelah hampir satu jam dicari, warga berhasil menemukan jasad korban dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Korban pun langsung dievakuasi dan langsung dibawa ke RSUD R Soedarsono untuk kepentingan otopsi.

Namun, sepertinya pihak keluarga tidak menghendaki putra putrinya yang menjadi korban keganasan sungai Welang tersebut diotopsi.

Menjelang maghrib ketiga korban kembali dibawa dari rumah sakit dan disemayamkan di rumah mereka masing-masing.

Setelah satu hari disemayamkan, ketiga bocah, pada Kamis (9/6) sekitar pukul 10.00 WIB dimakamkan secara bersamaan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Suasana haru mewarnai prosesi pemakaman. Hampir seluruh Ibu-ibu maupun warga lainnya di Dusun Rujak Gadung pagi itu menangis, turut mengiringi keranda ketiga korban yang diusung warga menuju tempat pemakaman.

Tidak terkecuali Khozin (45), Ayah dari korban Khotimatun Novianti, yang terlihat tidak mampu menyembunyikan kesedihan.

Sejak perjalanan menuju pemakaman, Khozin tak henti menangis, meskipun sejumlah kerabat mencoba menenangkan dirinya. Khozin seperti tidak percaya jika putri ketiganya itu pergi selamanya.

“Tidak menyangka anak saya pergi, paginya sehat tapi saat saya pulang kerja sudah tidak ada,” ratap Khozin, di sela prosesi pemakaman.

Sementara itu, petugas kepolisian menyimpulkan kejadian naas tersebut murni kecelakaan.

Korban diduga tidak bisa berenang hingga tewas tenggelam, meski arus sungai waktu itu dalam keadaan tenang dan tidak besar.

Untuk menghindari kejadian serupa, petugas menghimbau agar orang tua yang tinggal di pinggir sungai welang untuk lebih berhati-hati dan hendaknya melarang anak-anaknya bermain di sungai. tj

Rabu, 08 Juni 2011

Bocah 5 Tahun Tewas Tercebur Sumur


Petugas menunjukkan sumur tempat Audi terjatuh

PASURUAN – Barangkali kejadian ini dapat menjadi peringatan bagi para orang tua
agar lebih berhati-hati menjaga anaknya saat bermain. Seperti yang terjadi pada seorang bocah perempuan berusia 5 tahun, bernama Vanessa Claudia Eka Cintia Novaliyanti, warga Dusun Karang Selem, Desa Cukur Gondang, Kec Grati, Kab Pasuruan.

Bocah yang akrab dipanggil Audi ini ditemukan tewas tercebur sumur sedalam 30 meter dalam rumah. Rabu (8/6).

Salah satu warga, Mukhsin (27) menuturkan, bahwa kejadian tersebut diketahui pertama kali oleh Sri Utami (45), nenek korban, sekitar pukul 10.00 WIB.

Sri Utami tiba-tiba mendengar sesuatu terjatuh dan mendengar suara teriakan bocah, saat menina-bobokan Angel, adik korban di dalam kamar rumahnya.

Tidak lama setelah terdengar suara, muncul Fajar Surya Saputra (4) teman bermain Audi dan melaporkan ke Sri Utami jika Audi tercebur ke dalam sumur.

Dituturkan lebih lanjut, putri pertama pasangan Sugiyanto (27) dan Novalina Putri (23) tersebut tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dalam sumur saat berada di pinggir mulut sumur, yang hanya ditutup dengan lembaran seng itu.

Kontan, Sri Utami berteriak minta tolong ke warga sekitar. Namun, sayang nyawa
Audi tidak dapat diselamatkan meskipun berhasil diangkat dengan bantuan Ponadi
seorang yang bekerja sebagai tukang sumur.

“Sebelumnya juga ada yang nyoba masuk hendak menolong Audi, tapi naik kembali
dan belum sampai ke dasar sumur karena terlalu dalam,” terang Mukhsin saat
berada di sekitar lokasi kejadian.

Audi bersama adiknya selama ini memang menjadi momongan neneknya, karena kedua
orang tua bekerja.
Sugiyanto, ayah korban sehari-hari bekerja di sebuah bengkel di wilayah Pasuruan
sedangkan untuk menambah penghasilan keluarga, Novalina, Ibu korban terpaksa
bekerja di Surabaya. Dan tiap satu minggu sekali kedua orang tua tersebut datang
menjenguk putrinya di rumah Sri Utami.

“Kasihan juga Audi, padahal tahun ini orang tuanya berencana memasukkan ke TK,” tambah Mukhlis.

Selang beberapa waktu setelah korban dievakuasi, tim identifikasi Polres Pasuruan datang melakukan olah TKP serta meminta keterangan dari sejumlah saksi warga terkait peristiwa terceburnya bocah malang itu.

Dari pemeriksaan sementara, korban mengalami luka memar dan lecet pada bagian kepala, dahi, kedua lengan serta punggung. Sedangkan pada telinga korban mengeluarkan darah.

Polisi memastikan jika kejadian ini murni kecelakaan dan adanya luka pada tubuh korban dimungkinkan karena diduga terbentur kerasnya dinding dalam sumur.

Namun, polisi juga masih mendalami apakah korban tidak sengaja terpeleset atau
terdapat kemungkinan lain sehingga terjatuh ke dalam sumur.

Rencananya, hari itu juga korban langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum  desa setempat. tj

Selasa, 07 Juni 2011

Koramil Didemo

Warga Ds Kenduruhan di halaman Koramil Sukorejo
PASURUAN – Sedikitnya 300 warga Desa Kenduruhan, Kec Sukorejo, Kab Pasuruan, Selasa (7/6) sore melakukan unjuk rasa ke markas Koramil Sukorejo, Kab Pasuruan.

Aksi warga dilakukan menyusul dugaan penganiayaan oleh Serma Suherman, anggota Koramil Lumbang, Kab Pasuruan kepada Kepala Desa Kenduruhan bernama Salim Mahendra.

Warga menuntut oknum anggota Koramil tersebut dicopot dari kedinasan dan ditindak secara hukum.

“Tentara itu seharusnya melindungi, ini kok malah melakukan penganiayaan,” sesal Sokibi, salah satu warga di tengah unjuk rasa di depan markas Koramil Sukorejo.

Dijelaskan oleh Sokibi, penganiayaan oleh tentara yang terjadi pada hari Sabtu (4/6) lalu, sekitar pukul 08.00 WIB.

Saat itu, Serma Suherman tiba-tiba mendatangi rumah Salim dan langsung melakukan memukul wajah dan mencekik Salim hingga terluka.

Peristiwa penganiayaan diduga dilatarbelakangi persoalan perebutan tanah antara Salim Mahendra, dengan Maimunah yang juga masih Saudara Salim.

Salim dianggap merugikan Maimunah dalam melakukan pengukuran untuk menentukan batas tanah.

Sehingga Maimunah kecewa dan ‘menyewa’ Serma Suherman sebagai beking agar mendapatkan perlindungan dan bagian tanah yang dianggap sesuai bagi Maimunah.

Sementara itu, Komandan Kodim 0819, Letkol. Kav. Edi Sutjipto, mengatakan bahwa Serma Suherman saat ini sudah dicopot dari jabatannya sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil Lumbang, Kab Pasuruan.

Serma Suherman dianggap telah melakukan tindakan tidak terpuji dan indisipliner sebagai seorang tentara.

“Tentara arogan pasti akan kita tindak,” tegas Kol Edi Sutjipto melalui telepon selulernya.

Terkait proses hukum, atas tindakan penganiayaan pihak Kodim saat ini masih melakukan pendalaman dengan meminta keterangan Serma Suherman. tj

Selasa, 24 Mei 2011

Prona Dituding Sarat Penyimpangan


PASURUAN – Program Nasional sertifikasi tanah (Prona) tahun 2011, di Kab Pasuruan kini tersandung masalah. Diduga Prona yang seharusnya diberlakukan secara gratis, diduga dijadikan kesempatan oleh pejabat maupun perangkat desa untuk melakukan untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Hal itu terungkap saat puluhan warga Desa Kebonrejo, Kec Grati, Kab Pasuruan, secara spontan menggelar unjuk rasa di Balai Desa. Selasa (24/5).

Warga Kebonrejo menuding Heri Widodo, Kepala Desa Kebonrejo bersama perangkat desa lainnya melakukan pungutan liar (pungli) kepada warga terkait Prona.

Tidak tanggung-tanggung besaran pungli yang dibebankan kepada warga itu berkisar antara Rp 400 ribu hingga Rp 3 juta.

Untuk itu, warga menuntut agar Kepala Desa diproses secara hukum serta diberi tindakan sanksi, karena diduga telah melakukan pungli.

Salah satu warga Desa Kebonrejo, Rokhim (43), menjelaskan bahwa untuk mendapat sertifikat dalam program ini, oleh Kantor Desa ia dipungut sebesar Rp 600 ribu.

Bahkan diungkapkan juga salah satu warga bernama Narno, dipungut dengan jumlah uang cukup fantastis yakni sebesar Rp 3 juta.

“Katanya (prona) gratis, tapi kenapa kok saya masih ditarik uang sebesar Rp 600 ribu. Alasannya buat konsumsi,” sesal Rokhim setelah menggelar unjuk rasa.

Rokhim merupakan satu warga dari 250 warga di Desa Kebonrejo dalam Prona, dengan memiliki sebidang tanah seluas 600 M2.

Rokhim mengaku keberatan jika harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 600 ribu, karena pekerjaan sehari-harinya hanyalah sebagai penjual mainan anak-anak berkeliling ke sekolah-sekolah.

Sejatinya warga tidak menolak jika harus mengeluarkan uang dengan jumlah sepantasnya, jika saja pihak desa melakukan komunikasi terlebih dahulu kepada warga yang termasuk dalam Prona.

Kekecewaan warga memuncak ketika salah satu perangkat desa Kebonrejo memaksa warga untuk menandatangani lembaran surat pernyataan berisi kesediaan dan rela terkait uang yang diduga pungli tersebut.

Waktu itu, warga diancam tidak akan mendapat sertifikat jika tidak bersedia tanda tangan surat pernyataan ikhlas memberikan sejumlah uang tersebut.

“Kami langsung menolak, karena jelas-jelas itu sangat merugikan kami,” tambah Rokhim.

Sementara itu, Camat Grati, Muhammad Agus M, menyikapi kekecewaan warga Desa Kebonrejo dengan biasa-biasa saja.

Pihak kecamatan, memperkirakan warga Kebonrejo salah memahami program yang termasuk dalam satuan kerja Badan Pertanahan Nasional tersebut.

Pasalnya, pemerintah menjamin Prona tersebut diperuntukkan kepada warga secara gratis.

Dijelaskan oleh camat Grati, Jika terdapat tarikan biaya kepada warga, kemungkinan dilakukan untuk melengkapi syarat mengenai bukti kepemilikan, baik yuridis maupun fisik tanah warga.

“Biaya Prona itu ada di tingkat desa, jika warga tidak memiliki kelengkapan yuridis seperti surat keterangan riwayat tanah dan status tanah saat ini,” terang Muhammad Agus, Camat Grati.

Terkait dugaan pungli oleh Kepala Desa Kebonrejo, Camat Grati masih mempelajari dan memastikan akan berkordinasi dengan pihak Inspektorat Kab Pasuruan.

Program Nasional sertifikasi Kab Pasuruan tahun 2011 ini, sedianya untuk 3.500 bidang tanah di 15 desa, yakni di Kec Grati terdapat 9 desa; Kec Gondang Wetan sebanyak 4 desa; di Kec Purwosari dan Pandaan masing-masing 1 desa.

Pembiayaan Prona dijamin pemerintah melalui APBN sepanjang mengenai pendaftaran tanah, diantaranya terinci untuk pengumpulan data yuridis; pengukuran bidang tanah; siding panitia pemeriksaan tanah; hingga penerbitan sertifikat tanah. tj

Senin, 23 Mei 2011

Tanah Dieksekusi, Ibu Anak Pingsan


PASURUAN – Eksekusi terkait sengketa tanah antara tergugat Ibu Toliah (60) dan Ibu Danis (56) dengan Wain (70) berlangsung dramatis.

Dalam eksekusi tanah dan bangunan yang berlokasi di Desa Suwayuwo, Kec Sukorejo, Kab Pasuruan tersebut Ibu Danis bersama Wasiati, anak Toliah, tiba-tiba pingsan dan harus digotong ke sebuah Mushollah.

Bahkan sesaat setelah sadar dari pingsan, Danis histeris seperti kesurupan mencaci maki Wain yang dituding tega ‘membuang’ dirinyaa bersama keluarganya yang telah puluhan tahun hidup di atas tanah yang disengketakan itu.

Meskipun demikian, proses eksekusi yang dilakukan pihak Pengadilan Negeri Bangil tetap saja berlangsung.

Menurut Agus Waluyo Utomo, juru sita PN Bangil, eksekusi tetap dilakukan sudah sesuai, menyusul keputusan Mahkamah Agung (MA) nomor 1077 K/ pdt/ 2008, tertanggal 19 Desember 2008 silam.

Dalam keputusan tersebut, dikatakan tergugat yakni Toliah dan Danis tidak dapat membuktikan diri sebagai anak angkat dari ahli waris Muslim (alm).

Sedangkan Wais, sebagai keponakan Muslim (alm), dalam putusan tersebut dianggap memiliki hak atas tanah peninggalan Muslim seluas lebih dari 1 Ha, yang tersebar di 5 titik diantaranya 2 bangunan rumah seluas 260 M2 dan 3 bidang tanah di sekitar 8.000 M2.

“Obyek perkara ini barang asal, jadi putusannya penggugat pemenangnya sebagai ahli waris karena tergugat tidak dapat membuktikan diri sebagai anak angkat,” ujar Agus Waluyo Utomo, juru sita PN Bangil, saat ditemui di tengah eksekusi. Senin (23/5).

Upaya damai oleh Agus Waluyo Utomo dijelaskan juga sudah dilakukan sehingga eksekusi saat ini dilakukan secara paksa karena sebelumnya telah dilakukan peringatan ataupun upaya dialog agar tergugat segera melakukan pengosongan rumah dan lahan yang sebelumnya ditempati.

Namun demikian, proses hukum terkait keputusan eksekusi tanah ini, oleh Agus Heru Setiawan, SH, penasehat hukum Toliah dan Danis, terdapat banyak kejanggalan, diantaranya Pengadilan mengesampingkan status tanah yang sebenarnya, karena sebagian tanah yang disengketakan sejak tahun 2005 tersebut diperoleh dari harta gono gini pasangan Muslim dan Tarni.

Setidaknya tanah seluas 4.000 M2 yang merupakan harta gono gini oleh pengadilan dianggap sebagai obyek sengketa barang asal.

Disisi lain, Agus Heru Setiawan juga menambahkan bahwa hak dari harta berupa tanah yang dimenangkan dari sengketa ini tidak sepenuhnya dimiliki Wain.

Pasalnya jika dirunut berdasar keputusan pengadilan, tanah dan bangunan tersebut seharusnya dibagi secara merata kepada saudara-saudara Wain lainnya.

“Jika konsisten, Pengadilan harus segera membagi harta itu ke sekitar 86 keluarga lainnya,” imbuh Agus Heru Setiawan. tj

Jumat, 20 Mei 2011

Depag Investigasi Kasus Video Mesum Siswi MA


PASURUAN – Kasus peredaran video porno yang melibatkan pelajar di Nguling, Kab Pasuruan, membuat Kantor Departemen Agama bertindak cepat dengan membentuk tim investigasi.

Dari dasar temuan investigasi singkat itu, Kepala Seksi Mapenda Depag, Munif Armuza, memastikan jika gadis muda yang terekam dalam video tersebut adalah NT, siswi yang baru lulus di Madrasah Aliyah (MA) swasta Nguling.

Sedangkan perekam adegan ‘bugil dalam kamera’ waktu itu adalah pacar NT berinisial FQ, yang masih tercatat sebagai siswa sebuah SMK di Nguling.

Adegan mesum pasangan pelajar ini, dilakukan sekitar dua bulan yang lalu di sebuah rumah, dan direkam dengan handphone milik FQ.

NT mengaku menjadi korban dan merasa dijebak, karena tidak mengetahui jika adegan hot bersama FQ saat itu difilmkan dengan handphone.

NT juga tidak sadar dengan apa yang dilakukannya karena sebelumnya oleh FQ disuguhi menuman es berwarna merah yang diperkirakan mengandung alkhohol.

”Saat ini si gadis (NT) trauma karena malu,” ujar Munif Armuza.

Saat ditanya terkait sanksi yang akan dijatuhkan, kali ini Munif memberikan jaminan, bahwa kasus yang menimpa NT tidak akan berpengaruh pada hasil kelulusan di MA tempatnya selama ini belajar.

“Anaknya sebenarnya terkenal pendiam, pintar, bahkan nilai unasnya bagus,” tambah Munif.

Dari informasi yang diberikan Munif, rekaman video porno itu, diedarkan pertama kali oleh teman main FQ bernama Samsul.

Saat itu, status hubungan antara NT dengan FQ sudah putus, tidak lagi berpacaran, karena FQ menjalin hubungan dengan gadis lain.

FQ dikenal sebagai putra seorang Kepala Desa di Kec Nguling yang doyan gonta-ganti pasangan. tj

Kamis, 19 Mei 2011

Heboh Video Porno Pelajar


PASURUAN – Dunia pendidikan kembali dicoreng dengan perdaran video porno yang diduga diperankan pelajar sebuah madrasah aliyah swasta di Kec Nguling, Kab Pasuruan.

Dalam video porno tersebut tampak seorang perempuan muda tengah mengenakan pakaian di atas tikar berwarna biru di sebuah kamar, seperti telah selesai melakukan hubungan intim dengan pasangannya.

Saat hendak mengenakan pakaian, perempuan muda tersebut pertama kali mengenakan bra berwarna merah menyala.

Dalam video si perempuan muda tempak malu hingga menutupi wajahnya dengan selembar kain motif bunga berwarna coklat dan baju yang akan dikenakan. Kemudian perempuan berbalik membelakangi kamera perekam.

Si perekam, malah mendekat hingga perempuan tersebut kembali menutup muka dengan sebuah bantal berwarna putih.

Perempuan dalam rekaman video berdurasi 1 menit 51 detik itu, diduga berinisial NT, warga Desa Mlaten, Kec Nguling, Kabupaten Pasuruan.

Dari informasi yang berkembang, NT tercatat sebagai siswi sebuah Madrasah Aliyah (MA) swasta di nguling, dan dinyatakan lulus pada tahun ini.

Sementara perekam video diperkirakan seorang laki-laki, pacar NT, yang diketahui seorang pelajar kelas 1 di sebuah SMK di Nguling.

Video tersebut sebenarnya satu dari tiga video porno yang dibuat oleh pasangan pelajar ini. Namun, yang saat ini banyak beredar di masyarakat adalah video ketiga yakni perempuan bugil tengah berpakaian.

Dua video terakhir, dijelaskan menggambarkan pasangan muda tengah melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.

Namun demikian, pihak Madrasah Aliyah, tempat NT sebelumnya bersekolah, menolak jika video porno yang beredar tersebut adalah NT.

Pasalnya, wajah perempuan dalam video tersebut tergambar samar dan tidak pasti.

“Saya baru pertama liat video (porno) ini. Saya kira ini bukan (NT) seperti yang disebut-sebut itu,” elak Ahmad Farid saat dimintai keterangan di MA Nguling. Kamis (19/5).

Namun demikian, pihak MA memastikan akan melakukan kordinasi dengan sejumlah pihak, untuk selanjutnya memastikan siapa lakon yang berada dalam video porno tersebut.

Namun, Ahmad Farid tidak bisa meberikan jawaban apakah NT selama ini pernah tercatat dalam daftar sekolah.

“Maaf saya tidak bisa menjelaskan kalau itu,” jawabnya saat ditanya sejumlah wartawan.

Sementara itu, warga Desa Mlaten, juga menegaskan bahwa video porno itu hanyalah sebuah isu agar masyarakat umum resah.

Namun, warga tidak menyangkal jika di Desa Mlaten, terdapat nama dengan inisial NT dan pernah bersekolah di Madrasah Aliyah dimaksud.

Sampai saat ini polisi belum menentukan langkah-langkah hukum karena masih mempelajari keaslian video apakah pemeran tersebut dilakukan oleh seorang pelajar. tj

Bayi Perempuan Tewas Membusuk Di Pinggir Jalan


PASURUAN - Warga di sepanjang jalan raya Raci, Kabupaten Pasuruan, digemparkan dengan ditemukannya sesosok mayat bayi perempuan di pinggir jalan. Kamis (19/5).

Kali pertama jasad bayi tersebut di ketahui pada Rabu (18/5) malam, oleh Eko (30) seorang satpam sebuah pabrik pupuk yang berloksi tidak jauh dari lokasi ditemukannya bayi.

Kondisi bayi sangat mengenaskan, tubuhnya tergolek kaku dipinggir jalan raya, dikerubuti belatung terbungkus kain sarung, dalam sebuah wadah tas plastik merah.

Sejumlah rekan Eko dan warga, yang turut mengetahui, sebelumnya tidak berani menyentuh bungkusan tas plastik itu, karena bungkusan dikira berisi bom.

“Waktu saya takut megang bungkusan palstik merah itu,” kata Eko.

Namun, setelah didekati mereka kian penasaran karena dari dalam bungkusan tercium bau busuk.

Setelah pagi hari sejumlah petugas keamanan pabrik tersebut akhirnya melaporkan bungkusan tersebut dan kebetulan bertemu dengan salah seorang petugas lalu lintas Polres Pasuruan, bernama Brigadir Bagus.

Selanjutnya petugas lantas bersama satpam ke lokasi, dan ternyata setelah dibuka terdapat tubuh bayi perempuan yang sudah membusuk.

Sebelum dibawa dibawa ke rumah sakit umum Bangil untuk dilakukan visum, petugas dari Kepolisian Resor Pasuruan melakukan penyisiran dan identifikasi lokasi tempat ditemukannya bayi nahas ini.

Diduga bayi tersebut hasil dari hubungan gelap dan sengaja dibuang untuk menutup aib orang tuanya.

Diperkirakan bayi tersebut berusia satu minggu dan telah meninggal dunia lebih dari empat hari.

polisi masih belum mengetahui penyebab tewasnya bayi. Saat ini, pihaknya juga masih mencari siapa orang tua yang tega membuang bayi nahas ini.

“Untuk memastikan penyebab kematian orok ini, kami menunggu hasil dari tim medis,” terang Kompol Hadi Suryo, Kapolsek Bangil Polres Pasuruan. tj

Rabu, 18 Mei 2011

Buruh Patal Tuntut Usut Aksi Pengrusakan Tenda

PASURUAN – Aksi pengrusakan tenda perjuangan buruh yang diduga dilakukan oleh puluhan satpam PT Industri Sandang Nusantara Unit Pemintalan (PT ISN), Grati Kab Pasuruan, beberapa hari lalu, kian bergolak.

Ratusan buruh PT ISN, melakukan unjuk rasa di kantor pemkab Pasuruan, menuntut aksi pengrusakan tenda diusut dan segera menghukum pelaku pengrusakan. Rabu (18/5).

Dengan membentang sejumlah poster dan atribut aksi, buruh PT ISN menuding aksi premanisme satpam terhadap buruh tersebut telah direncanakan sebelumnya.

Bahkan, buruh dalam orasi aksinya menuding terdapat sejumlah oknum dari kepolisian dan tentara yang bertugas di Komando Ditrik Militer 0819 (Kodim) terlibat sebagai ‘beking’ sekaligus otak pengrusakan.

“Usut oknum-oknum polisi, anggota Kodim yang mback-up dan sengaja melakukan pembiaran terhadap pengrusakan tenda perjuangan kami,” tegas Kunto Kuntjoro, Sekjend Federasi Serikat Pekerja BUMN.

Dipaparkan juga oleh Kunto, bahwa saat puluhan satpam pabrik melakukan aksi pengrusakan tenda buruh waktu itu, sejumlah aparat kesatuan Brimob yang membantu menjaga pabrik, sebenarnya berada di dalam lokasi pabrik.

Namun, Kunto merasa heran karena anggota Brimob yang biasa berjaga tiba-tiba tidak ada di lokasi pengrusakan.

Bukan itu saja, puluhan preman juga disinyalir ‘memperkuat’ aksi pengrusakan tenda oleh satpam. Pasalnya, buruh yang menjaga tenda perjuangan juga dijelaskan merasa terintimidasi atas kehadiran puluhan massa tidak dikenal yang berdiri di depan pagar pabrik.

Sementara, pihak PT Usaha Kiat Mandiri (UKM) yang menaungi puluhan satpam PT ISN tidak menanggapi tudingan buruh tersebut.

Dalam kesempatan dialog, Perwakilan UKM tidak memberikan komentar dan hanya mencatat hasil-hasil pertemuan antara perwakilan buruh dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Sebelumnya pada hari Sabtu (14/5) lalu, tenda perjuangan yang digunakan buruh untuk menjaga asset PT ISN selama lebih satu tahun itu, dirusak oleh puluhan satpam.

Tiga orang buruh yang berjaga dalam tenda tidak mampu melakukan perlawanan hingga satpam-satpam PT ISN yang baru dua bulan bekerja leluasa merobohkan tenda.

Untuk diketahui, pada awal pebruari 2011 lalu, Peradilan Hubungan Industrial (PHI) menunjuk Pengadilan Negeri Surabaya untuk menyita 47 mesin, aset PT ISN Unit Patal Grati.

Sita eksekusi di lakukan karena PT ISN tidak melaksanakan putusan sela perkara nomor 82/G/ 2010 /PHI.sby yaitu membayar tanggungan upah  dan pesangon sebesar 1,5 miliar kepada 241 karyawan.

Sedianya, setelah dilakukan sita eksekusi oleh PN Surabaya, akan dilakukan lelang secara umum. Namun, eksekusi penyitaan asset itu terpaksa ditunda, lantaran tim independent yang menilai asset PT ISN baru saja bekerja dua minggu lalu. tj

Selasa, 17 Mei 2011

Hindari Tilang Ngaku Tentara


PASURUAN – Mengaku sebagai anggota TNI, seorang pria bernama Sugeng Slamet (35), warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, harus berurusan dengan polisi.
Saat diperiksa di Mapolresta Pasuruan, laki-laki yang bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya tersebut, mengatakan bahwa terpaksa mengaku sebagai anggota TNI agar polisi melepaskan dia saat ditilang.
Peristiwa ini bermula saat Slamet, hendak pulang dari Surabaya menuju ke Lumajang dengan mengendarai motor Revo. Senin (16/5) lalu.
Tepat di perempatan Balai Kota Pasuruan, ia terjaring operasi lalu lintas Kepolisian Resort Kota Pasuruan yang tengah bertugas.
Namun, karena tidak mampu menunjukkan surat-surat kendaraan miliknya, kepada petugas, pria 2 anak ini langsung bertingkah dan mengaku sebagai anggota TNI AD.
Akan tetapi, saat petugas menanyakan kartu anggota TNI dan bertugas di daerah mana, Slamet terus mengelak menghindari permintaan petugas.
Setelah sekian lama berkelit, Selamet langsung digelandang ke Mapolresta Pasuruan, untuk dimintai keterangan.
Di hadapan penyidik, Slamet tetap memberikan keterangan berbelit, malah kali ini berubah dengan mengaku seorang pecatan TNI. Setelah didesak ternyata ia tidak pernah menjadi anggota TNI, karena sebelumnya hanya bertani dan saat ini bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya.
“Saya mengaku-ngaku jadi tentara biar pe-de dan dianggap gagah,” ujar Slamet ketika ditanya sejumlah wartawan.
Polisi juga menemukan belasan bedge dan atribut dari sejumlah kesatuan TNI, yang diduga digunakan untuk melakukan penipuan.
"Untuk sementara, kami masih mendalami apakah Slamet pernah melakukan tindak kejahatan dengan ngaku-ngaku sebagai anggota TNI,” kata AKP Joko Siswanto, Kasubag Humas Polresta Pasuruan, Selasa (16/5). tj

Minggu, 15 Mei 2011

Satpam Rusak Tenda Perjuangan Buruh Patal


PASURUAN – Tenda perjuangan buruh PT Industri Sandang Nusantara Unit Pemintalan (Patal) Grati, Kab Pasuruan, Sabtu (14/5) kemarin, diserang dan dirusak oleh puluhan satpam perusahaan setempat.

Salah satu warga bernama Qodir, menuturkan jika pengrusakan tenda terjadi sekitar pukul 09.00 WIB dan dilakukan oleh sekitar 25 satpam.

Peristiwa tersebut berlangsung tiba-tiba, sehingga tiga orang buruh yang berada di dalam tenda tidak dapat berbuat banyak.

Salah satu buruh bernama Didik sempat melakukan perlawanan hingga lengannya sedikit terluka.

Namun, perlawanan tersebut tetap tidak mampu menghentikan kebringasan puluhan satpam yang memporak porandakan tenda yang didirikan buruh untuk memperjuangkan hak-haknya selama hampir satu tahun ini.

Petugas penjaga keamanan pabrik patal itu, kian leluasa melakukan pengrusakan karena puluhan massa tidak dikenal, juga turut membantu aksi satpam dengan cara memblokir pintu gerbang utama pabrik.

”Saya tidak tahu kok ada puluhan massa segala, berjaga-jaga di depan pagar depan pabrik saat satpam melakukan pengrusakan,” kata Qodir.

Pengrusakan oleh satpam tersebut disayangkan oleh Hariyono, salah satu pengurus Serikat Pekerja Patal, Grati.

“Seyogyanya satpam melindungi buruh yang selama ini berjuang dan bertahan, menjaga aset perusahaan,” sesal Hariyono.

Sementara itu, beberapa jam setelah mendapat laporan dari buruh adanya pengrusakan tenda oleh satpam tersebut, polisi langsung melakukan olah TKP.

Sejumlah tempat dan bekas tenda yang sebelumnya digunakan buruh menginap, disisir petugas untuk mengumpulkan bukti-bukti pengrusakan.

Polisi hingga kini juga belum mengetahui motif untuk menetapkan tersangka terkait peristiwa ini.

“Kami belum mengetahui siapa yang memerintah satpam terkati pembongkaran tenda buruh,” ujar AKP Teguh Taviarno, Kapolsek Grati, saat berada di lokasi.

Salah satu satpam saat dijumpai, mengaku hanya meneruskan perintah dari atasannya untuk membersihkan tenda buruh dari lokasi pabrik.

"Membongkar tenda karena perintah dari pimpinan,” singkat Suratin, salah satu satpam.

Dijelaskan juga bahwa satpam yang saat ini bekerja menjaga di PT ISN Unit Patal Grati tersebut masih dua bulan bekerja dan berada dalam naungan sebuah perusahaan outsourcing CV Usaha Kiat Mandiri (UKM).

Untuk diketahui, pada awal pebruari 2011 lalu, Peradilan Hubungan Industrial (PHI) menunjuk Pengadilan Negeri Surabaya untuk menyita 47 mesin, aset PT ISN Unit Patal Grati.

Sita eksekusi di lakukan karena PT ISN tidak melaksanakan putusan sela perkara nomor 82/G/ 2010 /PHI.sby yaitu membayar tanggungan upah  dan pesangon sebesar 1,5 miliar kepada 241 karyawan.

Sedianya, setelah dilakukan sita eksekusi oleh PN Surabaya, akan dilakukan lelang secara umum. Namun, eksekusi penyitaan asset itu terpaksa ditunda, lantaran tim independent yang menilai asset PT ISN baru saja bekerja dua minggu lalu. tj

29 Investor Berebut Proyek Umbulan


PASURUAN – Sebanyak 29 perusahaan, baik dari dalam dan luar negeri berebut untuk mengelola Sumber Mata Air Umbulan di Kec Winongan, Kab Pasuruan.

Namun, investor tersebut dituntut untuk dapat memenuhi keinginan dan tuntutan warga di 5 daerah Jawa Timur, terutama pada penentuan batas harga jual.

Jika harga yang ditawarkan nanti memberatkan warga di 5 daerah di Jatim, yang bakal memanfaatkan air tersebut, dipastikan tidak akan mendapatkan hak pengerjaan dan pengelolaan mata air Umbulan.

Bahkan warga sekitar mata air Umbulan beberapa waktu lalu, menuntut kepada investor yang nanti sebagai pengelola dapat memberikan air secara gratis.

Hingga saat ini, secara teknis proyek Sumber Air Umbulan ini baru memasuki tahap kedua yakni anwijzing, untuk menentukan investor yang bakal mengerjakan dan mengelola pemanfaatannya.

“Syarat terpenting investor harus menawarkan harga jual yang sesuai dengan kemampuan masyarakat,” jelas Syaifullah Yusuf, Wagub Jatim seusai menghadiri haul Mbah Sayyid Arif, Segoro Puro, Kec Rejoso, Kab Pasuruan. Sabtu (14/5).

Dijelaskan lebih lanjut, selain masyarakat diharapkan mendapat nilai lebih, bahwa daerah yang memiliki wilayah, yakni Kota dan Kabupaten Pasuruan, tetap akan mendapatkan kontribusi berupa pendapatan asli daerah (PAD) dari pemanfaatan sumber mata air umbulan yang rencananya disalurkan kepada 2 juta keluarga di Jatim tersebut.

Hal itu sekaligus menjawab surat yang disampaikan Pemkab Pasuruan ke Pemprov Jatim, bulan lalu, terkait pembagian hasil yang akan diperolah pemerintah daerah setempat.

Sumber Air Umbulan bakal segera digarap dengan dana mencapai Rp 1,7 trilyun untuk dimanfaatkan 5 daerah di Jatim.

Masing-masing untuk wilayah Kab Pasuruan dipasok air sebesar 420 liter perdetik; Kota Pasuruan sebanyak 110 liter perdetik; Kab Sidoarjo dipasok 1.370 liter perdetik; Surabaya dan Gresik sebesar 1.000 liter perdetik. Ditambah kawasan industri PIER Pasuruan mendapatkan pasokan air 100 liter perdetik.

Total alokasi penyaluran air untuk 5 daerah dan PIER dari Umbulan sebanyak 4.000 liter perdetik dari kapasitas 5.000 liter perdetik debit air yang dikeluarkan. tj

Jumat, 13 Mei 2011

Ajaib, Ayam Disembelih 2 Hari Tetap Hidup


PASURUAN – Warga Dusun Genteng Sari, Desa Ledok, Kec Nguling, Kab Pasuruan digegerkan dengan keberadaan ayam jago ajaib.

Pasalnya, Ayam ini masih tetap bertahan hidup meskipun telah disembelih hingga leher nyaris putus.

Malah ayam ini terlihat normal, memakan beras dan jagung layaknya ayam-ayam jago sehat lainnya. Namun karena lehernya putus, makanannya tidak dapat masuk kedalam tubuh ayam untuk dapat dicerna.

Walau tidak lincah, ayam jago ini terkadang berlari-lari menjauhi kerumunan warga serta mengais tanah pekarangan dengan cakarnya.

Ayam ajaib tersebut milik warga bernama fatkhur. Menurut Sudirman (55), penyembelih ayam, bahwa pada kamis lalu, ayam tersebut disembelih untuk sebuah acara selamatan. Terdapat tiga ekor ayam yang akan disembelih waktu itu.

Saat disembelih, dua ayam langsung mati, namun ajaib, ayam jago satu ini, meskipun dengan leher putus, masih tetap bertahan hidup dan sehat layaknya ayam-ayam
lainnya.

“Ayam pertama dan ketiga saya sembelih mati. Tapi aneh, ayam kedua ini kok gak mati-mati. Punya ilmu rupanya,” Kelakar Sudirman, disambut tawa warga lainnya. Jum’at (13/5).

Warga mengaku baru pertama kali menjumpai ayam jagoan seperti ini. Meskipun mengaku takut dan geli melihat leher ayam putus, hingga siang kemarin, warga terlihat tetap antusias, heran melihat kondisi ayam yang masih bertahan hidup. pas1
men/4tp��S�dan ditangani oleh dinas kesehatan.

Seperti yang terjadi pada seorang bocah dipasung di Nguling yang diduga hyperaktif dan saat ini tidak lagi ditangani oleh pemerintah sehingga pihak keluarga tetap memasung di dalam rumah.

“Kami sadar mungkin tidak sepenuhnya sembuh, tapi kami tetap kawal,” tegas Aida Fitiriani. tj

Kamis, 12 Mei 2011

Bocah 6 tahun Lumpuh, Butuh Bantuan


PASURUAN – Miris. Barangkali kalimat pertama kali muncul jika melihat Madinatul Munawaroh (6,5), bocah perempuan asal Dusun Buduk, Desa Sambirejo, Kec Rejoso, Kab Pasuruan.

Tubuh bocah malang ini terlihat kurus seperti hanya tulang dibalut kulit, tak mampu bergerak lincah layaknya bocah-bocah seusianya.

Selama lebih dari enam tahun ini, putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Dahlan (41) dan Saidah (31) ini, sehari-hari tergeletak lunglai di dalam kamar karena kedua kakinya lumpuh.

Menurut Saidah, putrinya saat ia lahirkan dalam kondisi normal, tidak terdapat tanda-tanda adanya penyakit.

Namun, menginjak usia empat bulan, tubuh Munawaroh mendadak membiru dan tidak dapat lagi aktif bergerak seperti pada saat sebelumnya.

Usaha penyembuhan medis ke sejumlah dokter spesialis anak bahkan pengobatan alternative telah dilakukan keluarga dan orang tua, tapi tetap saja kondisi kesehatan Munawaroh tidak kunjung berubah.

Hingga usia dua tahun, kesehatannya semakin parah. Munawaroh, gadis kecil itu, hanya mampu menangis kesakitan, berkedip dan menggerakkan kedua tangannya saja.

Selama usaha pengobatan itu, keputusan penyakit yang diderita berubah-ubah. Salah satu dokter yang pertama kali menangani Munawaroh menyebut bahwa sakit yang diderita adalah infeksi tenggorokan. sedangkan dokter lainnya, mendeteksi menderita infeksi paru-paru.

Keluarga kian bingung, karena dari hasil ke Laboratorium terkemuka di Pasuruan, tidak ditemukan sebab dan penyakit yang diderita Munawaroh.

Orang tua dan keluarga hanya bisa pasrah dan tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Dahlan yang hanya sebagai satpam sebuah pabrik mie di daerah Rejoso tidak mampu membiayai pengobatan.

“Kami sudah habis-habisan agar anak saya sembuh, tapi gimana lagi, penghasilan kami pas-pasan,” kata Saidah.

Namun demikian, meskipun terbilang menahun, perhatian dan bantuan dari dinas kesehatan dan pihak-pihak terkait terbilang terlambat.

Jaminan dan pendampingan kesehatan kepada bocah perempuan ini baru dilakukan, saat sejumlah anggota Komisi D DPRD berkunjung ke rumah Saidah untuk melihat Munawaroh, dua hari lalu.

Salah satu dokter Puskesmas Rejoso, dr. Pertiwi Ekarwati, memastikan akan memberikan rujukan ke rumah sakit untuk proses penyembuhan bocah malang ini.

“kemugkinan infeksi di otak, namun untuk deteksi pasti selanjutnya, kami akan memeriksa ke laboratorium secara menyeluruh,” jawab dr. Pertiwi Ekarwati saat berada di rumah saidah.

Sementara itu, ketua Komisi D DPRD Kab Pasuruan, Aida Fitriani, bahwa pihaknya berjanji akan terus mengawal perkembangan kesehatan Munawaroh.

Pasalnya, dari pengalaman selama ini, banyak kasus kesehatan serupa mandeg setelah mendapat perhatian dan ditangani oleh dinas kesehatan.

Seperti yang terjadi pada seorang bocah dipasung di Nguling yang diduga hyperaktif dan saat ini tidak lagi ditangani oleh pemerintah sehingga pihak keluarga tetap memasung di dalam rumah.

“Kami sadar mungkin tidak sepenuhnya sembuh, tapi kami tetap kawal,” tegas Aida Fitiriani. tj

Rabu, 11 Mei 2011

Mancing, Temukan Bayi Perempuan


PASURUAN – Kasus pembuangan bayi oleh orang tua terus terjadi. Kali ini, bayi berjenis kelamin perempuan ditemukan tewas di pinggir sungai Petung, Kel Bakalan, Kec Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Rabu (11/5).

Bayi nahas tersebut ditemukan oleh Suroso (20), warga Kel Blandongan, Kec Bugul Kidul, saat hendak memancing ikan di sungai.

Warga menduga, bayi tersebut hasil dari hubungan gelap, hingga orang tuanya membuangnya untuk menutup aib.

“Saya kaget, tiba-tiba lihat ada bayi tewas, terus saya beritahu warga sekitar dan bersama lapor polisi,” terang Suroso di lokasi penemuan bayi.

Kondisi tubuh bayi saat ditemukan cukup mengenaskan. Sekujur tubuh membengkak, tempurung kepala tidak lagi berisi, dan jemari tangan sebelah kiri hilang.

Diperkirakan bayi tersebut sudah meninggal sekitar tiga hari lalu. Hilangnya isi dalam kepala serta jemari dimungkinkan karena dimakan oleh ikan ataupun hewan lain di sungai.

Untuk keperluan penyelidikan, bayi tersebut langsung dievakuasi ke RSU Sudarsono, Purut.

Pihak kepolisian untuk sementara ini memastikan jika jasad bayi bukan berasal dari warga sekitar.

“Kami masih lidik, dari keterangan warga sekitar, bayi bukan berasal dari desa sekitar,” terang Kompol Imam Irianto, Kapolsek Bugul Kidul.

Saat ini, polisi juga masih mencari informasi ke sejumlah puskesmas dan bidan-bidan desa terdekat apakah dalam beberapa waktu terakhir terdapat ibu hamil yang memeriksakan kandungan atau telah melahirkan. tj

Selasa, 10 Mei 2011

Kunjungan Kapolda Disambut Demo Wartawan


PASURUAN – Kunjungan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Untung S. Radjab di Mapolresta Pasuruan disambut aksi tutup mulut belasan wartawan baik cetak maupun elektronik. Selasa (10/5).

Wartawan mengutuk aksi kekerasan tersebut dan menuntut Kapolda Jatim memberikan sanksi tegas terhadap oknum polisi yang melakukan tindak kekerasan hingga melukai empat wartawan di Surabaya saat melakukan kerja peliputan.

Aksi soldaritas belasan wartawan yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Anti Kekerasan (KoJAK) mengagetkan polisi yang berjaga-jaga.

Pasalnya, petugas merasa kecolongan, hingga sempat terjadi ketegangan saat polisi memaksa belasan wartawan menjauh dari pintu gerbang Mapolresta. Namun ketegangan dapat direda setelah petugas mempersilahkan untuk menggelar aksinya dengan tertib.

Belasan wartawan dalam aksinya membentangkan beberapa poster mengecam tindak kekerasan. Diantaranya, ‘Pers Bebas jangan dilibas’; Stop kekerasan terhadap pers’ serta ‘Jenderal jewer polisi nakal’.

"Kami meminta menguak ada apa dibalik kasus kekerasan terhadap rekan kita," tegas Kadir, wartawan Memorandum.

Menjawab tuntutan wartawan, Irjen Pol. Untung S Radjab yang baru menjabat Kapolda Jatim pada Maret 2011 memastikan tetap melakukan pemeriksaan terhadap oknum polisi yang terlibat aksi kekerasan itu.

Namun, Ia tidak menegaskan tindakan sanksi yang akan diberikan kepada anak buahnya tersebut.

"Ini masih pemeriksaan," ujarnya singkat setelah melakukan dialog bersama tokoh masyarakat Pasuruan.

Sementara itu, keprihatinan atas peristiwa kekerasan kepada wartawan tersebut ditunjukkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf.

Wagub Jatim yang akrab dipanggil Gus Ipul ini mendukung upaya penyelesaian secara hukum terhadap para oknum polisi pelaku pemukulan terhadap wartawan.

“Mestinya kita hormati wartawan. Hari ini, sungguh tidak elok melukai wartawan,” kata Gus Ipul, dalam sebuah acara di Ponpes Darullughah Wadda’wah, Desa Raci, Kab Pasuruan.

Untuk diketahui, pada Sabtu, 7 Mei lalu, empat wartawan di Surabaya mengalami tindak kekerasan berupa pengeroyokan dan pemukulan yang dilakukan anggota Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya.

Wartawan tersebut diantaranya Lukman Rozak (Trans7), Septa (Radio Elshinta), Joko Hermanto (TVRI), dan Oscar (News Tang Dinasty Television/NDTV).

Keempat wartawan itu, dikeroyok dan dipukul saat menjalankan tugas profesinya, yakni meliput unjukrasa massa Tionghoa dari sekte Falun Dafa atau Falun Gong di Taman Surya Balai Kota Surabaya. tj

Senin, 09 Mei 2011

Dewan Sidak SD Kelelawar


PASURUAN – Ruangan dan bangunan SD Negeri 1 Nguling, Kab Pasuruan, yang dijadikan sarang ribuan kelelawar hingga saat ini masih tidak berubah bahkan kian memperihatinkan.

Pasalnya, hingga saat ini, kelelewar-kelelawar tersebut masih tetap dibiarkan bersarang dan menganggu aktifitas belajar mengajar siswa sehari-hari.

Kondisi tersebut terpantau saat Komisi D, DPRD Kab Pasuruan, yakni Aida Fitriati selaku ketua Komisi, dan tiga lainnya masing-masing Ni’mah Jamilah, Suharlik serta Ida Wahyuni melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke lokasi ruangan kelelawar, yang berada di lantai dua gedung sekolah.

Sejumlah asbes plafon masih tetap bolong, terlebih lantai pada bekas ruang perpustakaan masih dipenuhi oleh kotoran kelelawar.

Selain kondisi fisik ruangan, aroma pesing dan tidak sedap memenuhi udara di SD Negeri 1 Nguling juga masih dirasakan.

Ibu-ibu anggota dewan ini, langsung berceloteh dan menutup hidung saat melangkah ke tangga menuju ruangan atas tempat ribuan kelelewar berada.

“Waduh, baunya…,” celetuk Aida Fitriani, Ketua Komisi D DPRD Kab Pasuruan, sambil terus melangkah di tangga.

Bahkan, setelah hampir 15 menit berada di dalam ruangan, tiba-tiba Ni’mah Jamilah, mual dan muntah-muntah dan berlari turun karena tidak tahan lagi terhadap bau kotoran kelelawar.

“Maaf, saya baru saya sakit jadi saya mual,” kata Ni’mah Jamilah memberi alasan.

Kondisi ruangan dan bangunan sarang kelelawar yang masih belum berubah tersebut diakui anggota dewan, merupakan sesuatu yang cukup sulit untuk dilakukan karena melibatkan banyak pihak.

Jika pengusiran dilakukan secara sembarangan, kelelawar tersebut juga ditakutkan akan pindah bersarang ke rumah-rumah warga sekitar.

“Jika pindah ke rumah warga malah semakin repot,” tegas Aida Fitriani.

Ni’mah Jamilah juga menambahkan jika kondisi ruangan bangunan tersebut tetap diterlantarkan tidak segera diperbaiki, selalu mengganngu belajar siswa, dikhawatirkan juga muncul keengganan dari para orang tua untuk tidak mendaftarkan putra putrinya ke SD Negeri 1 Nguling.

Komisi D DPRD Kab Pasuruan, pun mengakui jika pihaknya belum mampu mendesak ke pemerintah Kab Pasuruan untuk segera melakukan pengusiran dan perbaikan terhadap bangunan ruangan kelelawar.

Untuk dikethaui Ribuan kelelawar sejak 2003 silam menyerang SD Negeri 1 Nguling di Desa Nguling, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.

Akibat serangan kelelawar, 4 ruangan sekolah yang berada di lantai dua terpaksa dikosongkan karena atap ruangan dijadikan sarang ribuan kelelawar.

Ruangan tersebut diantaranya perpustakaan, dua ruangan pertemuan guru dan pusat kegiatan guru (PKG). kar
ali2Gk ����salinan Puskesmas hingga berhasil melahirkan dan sekitar sekitar 10 menit dilahirkan, bayi tersebut pun meninggal tidak dapat diselamatkan.

“Bayi tersebut berjenis kelamin perempuan, dilahirkan sekitar pukul 08.00 WIB, dengan panjangnya sekitar 50 centimeter,” terang seorang petugas yang enggan disebut namanya.

Secara medis, pihak Puskesmas juga masih belum mengetahui penyebab secara pasti meninggalnya bayi tersebut.

Dokter yang menangani proses kelahiran bayi tersebut, saat wartawan berada di lokasi tidak ada di puskesmas. Informasinya ia pergi untuk mengikuti pelatihan.

Sementara, kabar kelahiran bayi dempet tersebut dengan cepat menyebar ke masyarakat hingga warga berbondong-bondong dating ke puskesmas Lekok. Tapi mereka terpaksa gigit jari, karena keluarga dan puskesmas tidak menginjinkannya melihat. tj

Puluhan Kendaraan Tidak Laik Terjaring


PASURUAN – Puluhan kendaraan barang maupun kendaraan umum tidak laik jalan dan tidak dilengkapi surat ijin beroperasi, dijaring dalam operasi yang digelar Dishub Kab Pasuruan bersama Sat Lantas Polres Pasuruan, di Cargo Beji, Senin (9/5).

Ratusan kendaraan pengangkut barang mulai dari jenis pickup hingga truck gandeng, serta kendaraan penumpang dari mobil pengangkut umum (MPU) hingga bus, digiring petugas ke dalam lokasi Cargo Beji.

Hasilnya, puluhan kendaraan yang tidak laik jalan dan tidak memiliki ijin operasi serta kelengkapan kendaraan lainnya dijaring petugas. Belasan truck-truck besar didapati tidak laik jalan serta tidak ada kelengkapan buku uji (KIR).

Salah satu kendaraan tidak laik jalan didapati petugas adalah sebuah truk gandeng, yang gandengannya sudah aus atau jebol, tapi tetap digunakan dengan diganjal dan dibalut ikatan bekas ban.

“Gandengan truck seperti ini sangat berbahaya. Banyak kasus yang terjadi akibat gandengan terlepas, seperti kecelakaan di Jl Raya Kraton beberapa waktu lalu, yang menewaskan tiga orang,” kata AKP Indro Susetyo, Kasat Lantas Polres Pasuruan.

Operasi ini juga digelar juga karena petugas kerap dibohongi para pengusaha yang sudah mengujikan (KIR) kendaraan miliknya.

Saat uji kendaraan semua komponen kendaraan baik-baik saja, namun, pengusaha mengganti ban ataupun komponen lain, diganti dengan komponen dengan mutu rendah saat kendaraan beroperasi.

“Makanya kami akan terus tertibkan, sehingga angka kecelakaan terkurangi,” tambah Nasrullah Machari, Kabid Angkutan Dishub Kab Pasuruan.

Dari operasi tersebut, terinci terdapat 12 kasus ditangani Dishub, karena tidak dilengkapi ijin operasi/ trayek dari kendaraan penumpang serta buku uji KIR yang mati.

Kendaraan penumpang umum tidak mengantongi ijin operasi tersebut adalah bus Pahala Kencana nopol B 7598 IZ, Bus Sandy nopol N 7054 UQ, travel nopol P 7202 UV dan travel Bali Prima bernopol L 1489 EW berplat hitam.

Sementara, 22 kasus ditangani pihak kepolisian, diantaranya didominasi oleh pengemudi yang tidak melengkapi SIM dan STNK.

Dari 22 kasus, petugas mendapati sebuah MPU diduga hasil dari pencurian kendaraan bermotor (curanmor) bernopol N 469 UT. tj

Bayi Berkepala 2 Berlengan 3


PASURUAN – Warga Kec Lekok, Kab Pasuruan, digegerkan dengan lahirnya bayi kembar dempet di Puskesmas Lekok, Senin (9/5) pagi. Bayi tersebut memiliki dua kepala serta tiga lengan.

Namun, meskipun sempat menghirup udara beberapa menit, bayi tersebut akhirnya meninggal setelah dilahirkan oleh ibunya.

Pihak keluarga serta petugas Puskesmas Lekok, enggan memberikan informasi secara detil terkait kondisi bayi tersebut kepada para wartawan.

Dari informasi yang berkembang, bayi dua kepala dengan tiga tangan, dilahirkan ibunya yang bernama Halimah, warga Desa Jatirejo, Kec Lekok, seorang istri dari Nur Hasan, asal Desa Rowogempol, Kec Lekok.

Halimah sebelumnya sempat dirawat oleh seorang bidan desa setempat bernama Suci. Sebelum akhirnya dirujuk ke puskesmas untuk melakukan persalinan.

Pagi itu, Halimah sempat diangkut ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah sakit, namun, bayi dalam kandungan Halimah dipastikan akan keluar.

Petugas akhirnya membawa kembali Halimah ke ruang persalinan Puskesmas hingga berhasil melahirkan dan sekitar sekitar 10 menit dilahirkan, bayi tersebut pun meninggal tidak dapat diselamatkan.

“Bayi tersebut berjenis kelamin perempuan, dilahirkan sekitar pukul 08.00 WIB, dengan panjangnya sekitar 50 centimeter,” terang seorang petugas yang enggan disebut namanya.

Secara medis, pihak Puskesmas juga masih belum mengetahui penyebab secara pasti meninggalnya bayi tersebut.

Dokter yang menangani proses kelahiran bayi tersebut, saat wartawan berada di lokasi tidak ada di puskesmas. Informasinya ia pergi untuk mengikuti pelatihan.

Sementara, kabar kelahiran bayi dempet tersebut dengan cepat menyebar ke masyarakat hingga warga berbondong-bondong dating ke puskesmas Lekok. Tapi mereka terpaksa gigit jari, karena keluarga dan puskesmas tidak menginjinkannya melihat. tj