Satu peserta dalam khitan massal Ds Watulumbung, Kec Lumbang. |
PASURUAN – Khitan massal biasanya digelar dan diikuti oleh anak-anak. Namun, kali ini justru diikuti oleh para pria dewasa yang tentu sudah berumur.
Tidak tanggung-tanggung, salah satunya bahkan terbilang sudah udzur mencapai 55 tahun. Karuan saja mereka begitu selesai dikhitan, langsung ngacir langsung pulang ke rumahnya.
Sebanyak 32 orang dewasa yang berusia antara 30 hingga 55 tahun, mengikuti khitan massal yang digelar NU Kab Pasuruan bersama Pemkab Pasuruan dan Yayasan Mubarot Kab Pasuruan di Desa Watulumbung, Kec Lumbang, Kamis (9/6).
Para peserta khitanan massal ini paling muda berusia 30 tahun, sedangkan paling tua berusia sekitar 55 tahun.
Ternyata selain orang awam, seorang perangkat desa setempat, yang berusia 38 tahun, juga mengikuti khitan masal ini.
Menariknya lagi, rata-rata peserta khitan massal, diantarkan para istrinya menuju lokasi khitan.
“Kepada para istri, silahkan bedakan dengan sebelumnya. Suami pasti jauh lebih sip dan higienis,”kelakar KH Idris Hamid, Ketua Yayasan Mubarot.
Kh Son Haji Abdus Shomad, Ketua PCNU Kab Pasuruan, menuturkan bahwa khitanan masal ini digelar sebagai bentuk bimbingan serta pembinaan dalam agama islam secara benar.
“Muslim akan jauh lebih sempurna jika dikhitan karena sekaligus menjaga kesehatan,” ujar KH Son Haji Abdus Shomad.
Sebenarnya warga para peserta khitan massal ini sebelumnya semasa kecil sudah dikhitan secara tradisional. Namun, cara berkhitan yang dilakukan oleh warga saat masa anak-anak tersebut, hanya dilukai pada ujung kulit kemaluannya saja.
“Terkadang ada yang cukup dilukai dengan menggunakan bilah bambu yang dipecah dan ujung kulit buah dzakarnya dijepit begitu saja,” tambah Abd Rochim, seorang Staf di Dinas Kominfo Kab Pasuruan.
Para peserta khitan mendapatkan santunan sebesar Rp 75.000 sebagai ganti mereka lantaran tidak bekerja.
Wabup Pasuruan, H eddy Paripurna, berharap kegiatan khitan massal ini terus digelar dan dikembangkan.
“Dibutuhkan kesabaran mengajak warga yang khitannya belum sempurna. khitan yang sempurna sangat mendukung kesehatan sekaligus membuat kesempuranaan dalam beragama,” ujar Edy Paripurna. tj


